informasi obat indonesia

Merupakan pusat info obat=obat di Indonesia spt zat berkhasiat dan rumus kimia, info seputar kesehatan, dll

Sabtu, 25 Juli 2009

 

Adefovir Dipivoxil

eluang sembuh bagi penderita penyakit hati (Hepatitis) B saat ini semakin tinggi dengan ditemukannya obat hepatitis generasi terbaru, Adefovir Dipivoxil. Obat yang diproduksi perusahaan farmasi dunia, GlaxoSmithKline dengan nama dagang HEPSERA tersebut mampu menekan virus Hepatitis B dan memperbaiki jaringan hati.
Ahli hepatologi Prof. Dr. Nurul Akbar mengatakan, penemuan obat baru tersebut merupakan lompatan besar dalam penatalaksanaan penyakit Hepatitis B kronis. Karena obat oral hepatitis B yang selama ini dipakai jutaan orang di dunia dan masuk kelompok nukleosida analog dengan nama dagang Lamivudine tidak mampu mengatasi mutasi atau resistensi yang sering terjadi setelah 1 tahun pemakaian obat tersebut.
"Dengan Hepsera pengobatan Hepatitis B kini jauh lebih mudah karena obatnya diminum 1 kali sehari. Selain juga peluang kesembuhannya lebih besar, meski tidak 100 persen," kata Prof Nurul Akbar dalam simposium yang diselenggarakan Perhimpunan Peneliti Hati Jaya (PPHI Jaya) bertajuk "Paradigma Baru Pengobatan Hepatitis B Kronis".
Prof Nurul mengatakan, penemuan obat baru Hepatitis B itu menjadi sangat penting mengingat makin banyaknya penderita-penderita Hepatitis B di muka bumi ini. Badan kesehatan dunia, WHO memperkirakan ada sekitar 350 juta penduduk dunia menderita penyakit tersebut. Sementara di Indonesia jumlahnya diperkirakan mencapai 11 juta jiwa.
Untuk kota Jakarta sendiri, Ketua PPHI Jaya, dr Agus Waspodo memperkirakan 1 dari 20 orang warga DKI menderita Hepatitis B. "Namun sayang, jumlah penderita yang cukup tinggi ini tidak diimbangi dengan kewaspadaan dan pengetahuan yang cukup mengenai penyakit itu sendir. Sehingga perlu terus dilakukan sosialisasi kepada masyarakat awam agar penderita penyakit ini bisa ditekan, " ujar dr Agus Waspodo.
Dijelaskan, Hepatitis B adalah penyakit serius yang disebabkanoleh virus yang menyerang hati. Virus yang dikenal dengan nama virus Hepatitis B (HBV) ini bekerja dengan cara merusak hati secara tidak langsung melalui gangguan sistem kekebalan/imun dan selanjutnya dapat menyebabkan infeksi yang berkepanjangan, sirosis (pengerasan) hati, kanker hati sehingga menimbulkan kematian. Cara penularan virus HVB, ditambahkan Prof Nurul Akbar, sangatlah mudah yaitu melalui cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti melalui darah, air ludah dan cairan tubuh lainnya. Virus Hepatitis B tidak akan menular bila hanya melakukan jabatan tangan, berpelukan atau cium pipi.
"Karena itu, kita perlu segera periksa diri atas kemungkinan tertular bila kita pernah melakukan transfusi darah maupun transplantasi organ, melakukan seks bebas dengan berganti-ganti pasangan, penggunaan obat-obatan ke dalam pembuluh darah, pemakaian sikat gigi dan pisau cukur bergantian dengan orang lain serta membuat tato dengan menggunakan jarum yang tidak steril," katanya.
Virus Hepatitis juga dapat menular dari ibu yang telah terinfeksi kepada bayinya pada masa persalinan , atau dari seorang anak ke anak yang lain pada masa balita. Berbagai penelitian menunjukan 9 dari 10 orang yang terinfeksi ketika mereka dewasa. "Kasus-kasus semacam ini kebanyakan terjadi di wilayah Asia Pasifik dan di Sub-Sahara yang mana virus Hepatitis B sangat umum," tutur Prof Nurul Akbar.
Virus Hepatitis B dapat bertahan sampai beberapa minggu di luar tubuh manusia, sehingga penularan virus itu sangat cepat dan penularannya 100 kali lebih cepat dari virus HIV. Ketika seseorang terinfeksi virus Hepatitis B, virus akan masuk ke sel hati. HBV genetic material (DNA) kemudian menggunakan sel-sel hati tersebut untuk bereplikasi. Virus lalu membajak fungsi sel hati dan menggunakannya untuk menghasilkan ribuan partikel virus baru. Partikel virus baru akan memecahkan sel hati dan menginfeksi sel hati lainnya. Demikian terus berulang.
Jika fungsi hati terganggu, baik karena penyakit atau konsumsi minuman beralkohol dalam waktu lama, maka racun dan produk tak akan menumpuk dalam tubuh, vitamin penting yang tersimpan akan habis sehingga tubuh kekurangan nutrisi penting yang diperlukan tubuh. "bila kondisi ini dibiarkan saja akan berujung pada kematian," ucapnya.
Bahayanya lagi, ditambahkan Prof Nurul Akbar, penyakit Hepatitis B ini sering datang tanpa gejala yang jelas dan hanya sedikit yang menunjukkan gejala kuning pada mata dan kulit, lesu, tidak nafsu makan dan mual. Warna kuning itu disebabkan meningkatnya produksi yang tak berguna dalam darah, yang biasanya secara normal diproduksi dan dibuang oleh hati yang sehat, diagnosa yang tepat hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan darah dan pemeriksaan tambahan lainnya yang dapat membantu ditemukannya kerusakan pada hati," ujarnya.
Perbaikan Jaringan
Prof Nurul Akbar menjelaskan, bagi orang yang telah terkena virus Hepatitis B maka ada dua cara pengobatan yang dikenal yaitu pengobatan oral dengan cara ditelan dan injeksi. Cara injeksi kurang disukai karena dirasa merepotkan. Sementara cara oral diberikan obat yang masuk dalam kelompok nukleosida analog, dengan nama dagang Lamivudine. Obat tersebut mempunyai toleransi yang cukup baik. "Namun, pada pemakaian jangka panjang, Lamivudine ini kadang menimbulkan mutasi bagi penderitanya. Sehingga efek obatnya tidak lagi bekerja, terutama setelah 1 tahun pemakaian. Dengan adanya Hepsera kendala semacam itu bisa diatasi," katanya.
dr Helena Rahayu, Direktur Pemasaran GlaxoSmithKline menambahkan, cara kerja Hepsera adalah menekan replika virus sehingga menekan risiko perburukan hati dan memicu timbulnya anti HBe. Dengan anti HBe positif berarti tubuh kita telah memproduksi zat kebal yang menandakan virus Hepatitis B berhenti memperbanyak diri/replika.
"Dan hepsera sangat baik dalam memperbaiki jaringan hati, sehingga akan mencegah progresivitas sirosis/kanker," kata dr Helena Rahayu seraya menambahkan Hepsera tersedia dalam bentuk tablet berwarna putih dengan dosis yang dianjurkan 10 mg per hari satu tablet selama 12 bulan.
Hasil penelitian yang dilakukan GlaxoSmithKline menunjukan, 80 persen dari pasien yang diterapi dengan Hepsera mendapat perbaikan dalam uji peradangan dibandingkan dengan 42 persen pasien yang dicoba dengan placebo. Hepsera 10 mg satu kali sehari memberikan hasil yang signifikan dalam menekan virus hepatitis B DNA dalam waktu 48 minggu dibandingkan dengan placebo.

"Sebanyak 79 persen pasien mengalami perbaikan jaringan hati setelah menjalani pengobatan dengan Hepsera selama 96 minggu. Kemanjuran Hepsera semakin meningkat seiring dengan semakin lamanya terapi dengan obat tersebut. Sehingga Hepsera baik digunakan untuk terapi Hepatitis B kronis jangka panjang," tutut dr Helena Rahayu.
Ditanyakan untuk mengetahui apakah seseorang telah dinyatakan sembuh dari penyakit Hepatitis B yang diidapnya itu, menurut Prof Nurul Akbar adalah dengan melihat hasil pemeriksaan darah kadar HBs Ag (Hepatitis B Surface Antigen) dinyatakan negatif. "Kalau HBs Ag-nya masih positif berarti virusnya masih aktif. Itu artinya pasien belum sembuh," ujarnya. Tentang harga yang harus dibayar pasien untuk obat tersebut, dr Helena Rahayu mengatakan, penggunaan Hepsera selama satu bulan dibutuhkan sekitar Rp 1,1 juta. Harga tersebut belum termasuk obat lain, bila pasien menderita komplikasi penyakir lainnya.
Tambahan informasi : Untuk sekarang, tahun 2009, penggunaan Hepsera selama satu bulan dibutuhkan sekitar Rp 1,265 juta, relatif mahal bagi penderita yang kurang mampu/penghasilan pas-pas an karena penggunaan obat Hepsera tersebut harus dalam waktu panjang, di atas 10 bulan.


Kamis, 16 Juli 2009

 

ACARBOSE


Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia : O-4,6-dideoxy-4-[[(1S,4R,5S,6S)-4,5,6-trihydroxy-3-( hydroxymethyl)-2-cyclohexen-1-yl] amino]-a -D-glucopyranosyl-(1->4)-O-a -D-glucopyranosyl-(1->4)-D-glucose
- Sifat Fisikokimia : Merupakan serbuk berwarna putih tulang (off-white), larut dalam air. BM 645,6
- Keterangan : Acarbose adalah oligosakarida yang diperoleh dari proses fermentasi Actinoplanes utahensis
Golongan/Kelas Terapi
Hormon, obat Endokrin Lain dan Kontraseptik
Nama Dagang
- Glucobay- Precose
Indikasi

Sebagai tambahan pada terapi OHO sulfonilurea atau biguanida pada Diabetes mellitus yang tak dapat dikendalikan dengan diet dan obat-obat tersebut. Acarbose terutama sangat bermanfaat bagi pasien DM yang cenderung meningkat kadar gula darahnya segera setelah makan (hiperglikemia postprandial), pasien DM yang diterapi dengan insulin, umumnya akan menurun penggunaan insulinnya jika sudah dikombinasi dengan acarbose.Obat-obat inhibitor alpha-glukosidase dapat diberikan sebagai obat tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan obat diabetes lainnya, seperti OHO golongan sulfonilurea, metformin, atau insulin.

Dosis

Obat ini umumnya diberikan dengan dosis awal 50 mg dan dinaikkan secara bertahap sampai 150-600 mg/hari. Dianjurkan untuk mengkonsumsinya bersama segelas penuh air pada suap pertama sarapan/makan.

Farmakologi

Senyawa-senyawa inhibitor alpha-glukosidase bekerja menghambat enzim alfa glukosidase yang terletak pada dinding usus halus. Enzim-enzim alpha glukosidase (maltase, isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida,pada dinding usus halus.Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat mengurangi pencernaan karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar glukosa post prandial pada pasien diabetes. Senyawa inhibitor alpha-glukosidase juga menghambat enzim a-amilase pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam lumen usus halus. Acarbose tidak merangsang sekresi insulin oleh sel-sel ß-Langerhans kelenjar pankreas.Oleh sebab itu tidak menyebabkan hipoglikemia, kecuali diberikan bersama-sama dengan OHO yang lain atau dengan insulin.Obat ini efektif bagi pasien dengan diet tinggi karbohidrat dan kadar glukosa plasma puasa kurang dari 180 mg/dl.Pasien yang mendapat terapi acarbose saja umumnya tidak akan meningkat berat badannya, bahkan akan sedikit menurun.Acarbose dapat diberikan dalam terapi kombinasi dengan sulfonilurea, metformin, atau insulin.

Stabilitas Penyimpanan

Jangan simpan di atas 25°C. Jauhkan dari lembab, wadah sebaiknya selalu tertutup rapat.

Kontraindikasi

• Hipersensitif terhadap acarbose

• Ketoasidosis diabetic

• Obstruksi usus, parsial ataupun keseluruhan

• Radang atau luka/borok pada kolon

• Wasir

• Penyakit usus kronis lainnya atau penyakit-penyakit lain yang akan bertambah parah jika terjadi pembentukan gas berlebihan di saluran pencernaan.

Efek Samping

Acarbose tidak diserap ke dalam darah, oleh sebab itu efek samping sistemiknya minimal.Efek samping yg sering terjadi, terutama gangguan lambung, lebih banyak gas, lebih sering flatus dan kadang-kadang diare, yg akan berkurang setelah pengobatan berlangsung lebih lama. Efek samping ini dapat berkurang dgn mengurangi konsumsi karbohidrat.Kadang-kadang dapat terjadi gatal-gatal dan bintik-bintik merah pada kulit, sesak nafas, tenggorokan serasa tersumbat, pembengkakan pada bibir, lidah atau wajah.Bila diminum bersama-sama obat golongan sulfonilurea atau dengan insulin, dapat terjadi hipoglikemia yang hanya dapat diatasi dengan glukosa murni, jadi tidak dapat diatasi dengan pemberian sukrosa (gula pasir).

Interaksi

- Dengan Obat Lain : Alkohol: dapat menambah efek hipoglikemik. Suplemen enzim pencernaan seperti pancreatin (amilase, protease, lipase) dapat mengurangi efek acarbose apabila dikonsumsi secara bersamaan. Antagonis kalsium: misalnya nifedipin kadang-kadang mengganggu toleransi glukosa. Antagonis Hormon: aminoglutetimid dapat mempercepat metabolisme OHO; oktreotid dapat menurunkan kebutuhan insulin dan OHO. Antihipertensi diazoksid: melawan efek hipoglikemik. Antidepresan (inhibitor MAO): meningkatkan efek hipoglikemik. Hormon steroid: estrogen dan progesterone (kontrasepsi oral) antagonis efek hipoglikemia. Klofibrat: dapat memperbaiki toleransi glukosa dan mempunyai efek aditif terhadap OHO. Penyekat adrenoreseptor beta : meningkatkan efek hipoglikemik dan menutupi gejala peringatan, misalnya tremor. Penghambat ACE: dapat menambah efek hipoglikemik . Resin penukar ion: kolestiramin meningkatkan efek hipoglikemik acarbose. Obat-obat yang dapat mempengaruhi kadar glukosa darah, seperti obat-obat diuretika (misalnya hidroklortiazida, klorotiazida, klortalidon, indapamid, dan lain-lain), senyawa steroid (misalnya prednisone, metilprednisolon, estrogen), senyawa-senyawa fenotiazin (misalnya klorpromazin, proklorperazin, prometazin), hormone-hormon tiroid, fenitoin, calcium channel blocker (misalnya verapamil, diltiazem, nifedipin).

- Dengan Makanan : -

Pengaruh

- Terhadap Kehamilan : Risiko kehamilan FDA : katagori B (diperkirakan tidak berbahaya terhadap janin), namun demikian pemakaiannya pada ibu hamil tetap harus berhati-hati.

- Terhadap Ibu Menyusui : Hasil penelitian dengan hewan percobaan menunjukkan bahwa acarbose dapat masuk ke dalam air susu dan mempengaruhi bayi yang disusui, namun belum diketahui apakah hal ini juga terjadi pada manusia.Namun karena banyak obat yang dapat masuk ke dalam air susu ibu, maka acarbose sebaiknya tidak diberikan pada ibu menyusui, kecuali dokter mempunyai pertimbangan lain.

- Terhadap Anak-anak : Tidak disarankan untuk anak-anak.

- Terhadap Hasil Laboratorium : -

Parameter Monitoring

Kadar glukosa darah puasa : 80–120mg/dl, Kadar hemoglobin A1c : <100mg/dl,>

Bentuk Sediaan

Tablet 25 mg, 50 mg, dan 100 mg

Peringatan

-

Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus

-

Informasi Pasien

• Jangan konsumsi obat lain tanpa seizin dokter atau apoteker.

• Obat ini hanya berperan sebagai pengendali diabetes, bukan penyembuh.

• Obat ini hanya faktor pendukung dalam pengelolaan diabetes, faktor utamanya adalah pengendalian diet (pola makan) dan olah raga.

• Konsumsi obat sesuai dosis dan aturan pakai yang diberikan dokter

• Monitor kadar glukosa darah sebagaimana yang dianjurkan oleh dokter

• Jika Anda merasakan gejala-gejala hipoglikemia (pusing, lemas, gemetar, pandangan berkunang-kunang), pitam (pandangan menjadi gelap), keluar keringat dingin, detak jantung meningkat, segera hubungi dokter.

• Jika Anda sudah pernah mengalami hipoglikemia, selalu bawa sekantung kecil gula jika Anda bepergian. Segera makan gula begitu Anda mendapat serangan hipoglikemia.

• Laporkan pada dokter jika Anda berencana untuk hamil

• Obat ini tidak boleh dikonsumsi semasa hamil atau menyusui, kecuali sudah diizinkan oleh dokter.

Mekanisme Aksi

Menghambat enzim alfa glukosidase yang terletak pada dinding usus halus dan menghambat enzim alfa-amilase pankreas, sehingga secara keseluruhan menghambat pencernaan dan absorpsi karbohidrat. Acarbose tidak merangsang sekresi insulin oleh sel-sel ß-Langerhans kelenjar pankreas.

Monitoring Penggunaan Obat

-

Daftar Pustaka

Precose, Clinical Pharmacology, Rx List Internet Drug Index @ http://www.rxlist.com/cgi/generic/acarbose_cp.htm

Mount Auburn Hospital - Alpha-glucosidase inhibitors for type 2 diabetes, 1995-2004, Healthwise, Incorporated, P.O. Box 1989, Boise, ID 83701 @ http://12.31.13.175/

Drug Digest, Drug Comparisons, Alpha-glucosidase Inhibitors @ http://www.drugdigest.org/DD/Home/AllAboutDrugs


Selasa, 14 Juli 2009

 

Ampicillin 500 mg


Indikasi:
Ampisilina digunakan untuk pengobatan:
Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia faringitis, bronkitis, laringitis.
Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis.
Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi kulit dan jaringan kulit.
Septikemia, meningitis.

Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap penisilina.

Komposisi:
Tiap captab mengandung Ampisilina Trihidrat setara dengan Ampisilina Anhidrat 500 mg.

Cara Kerja:
Ampisilina termasuk golongan penisilina semisintetik yang berasal dari inti penisilina yaitu asam 6-amino penisilinat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakterisid.
Secara klinis efektif terhadap kuman gram-positif yang peka terhadap penisilina G dan bermacam-macam kuman gram-negatif, diantaranya :
1.Kuman gram-positif seperti S. pneumoniae, enterokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilinase.
2.Kuman gram-negatif seperti gonokokus, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis.

Dosis:
Untuk pemakaian oral dianjurkan diberikan ½ sampai 1 jam sebelum makan.
Cara pembuatan suspensi, dengan menambahkan air matang sebanyak 50 ml, kocok sampai serbuk homogen. Setelah rekonstitusi, suspensi tersebut harus digunakan dalam jangka waktu 7 hari.
Pemakaian parenteral baik secara i.m. ataupun i.v. dianjurkan bagi penderita yang tidak memungkinkan untuk pemakaian secara oral.

Cara pembuatan larutan injeksi:
Kemasan Cara pemakaian Penambahan air untuk injeksi
Vial 0,5 g i.m./i.v. 1,5 ml
Vial 1,0 g i.m./i.v. 2,0 ml


Posologi:
Terapi oral
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :
Infeksi saluran pernafasan : 250 - 500 mg setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.

Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 - 100 mg/kg BB sehari diberikan dalam dosis terbagi setiap 6 jam.

Pada infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi.

Terapi parenteral
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :
Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 250 - 500 mg setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.
Septikemia dan bakterial meningitis : 150 - 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 - 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.


Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang:
Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 25 - 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 50 - 100 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Septikemia dan bakterial meningitis : 100 - 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 - 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.

Bayi berusia 1 minggu atau kurang :
25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 8 - 12 jam.

Bayi berusia lebih dari 1 minggu :
25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 6 - 8 jam.

Efek Samping:
Pada beberapa penderita, pemberian secara oral dapat disertai diare ringan yang bersifat sementara disebabkan gangguan keseimbangan flora usus. Umumnya pengobatan tidak perlu dihentikan. Flora usus yang normal dapat pulih kembali 3 - 5 hari setelah pengobatan dihentikan.
Gangguan pada saluran pencernaan seperti glossitis, stomatitis, mual, muntah, enterokolitis, kolitis pseudomembran.
Pada penderita yang diobati dengan Ampisilina, termasuk semua jenis penisilina dapat timbul reaksi hipersensitif, seperti urtikaria, eritema multiform. Syok anafilaksis merupakan reaksi paling serius yang terjadi pada pemberian secara parenteral.

Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

 

Amoxicillin


Indikasi:
Amoksisilina efektif terhadap penyakit:
Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis gonore), bronkitis, langritis.
Infeksi sluran cerna: disentri basiler.
Infeksi saluran kemih: gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi lain: septikemia, endokarditis.

Kontra Indikasi:
Pasien dengan reaksi alergi terhadap penisilina.

Komposisi:
Tiap sendok teh (5 ml) suspensi mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 125 mg.
Tiap kapsul mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 250 mg.
Tiap kaptab mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 500 mg.

Cara Kerja Obat:
Amoksisilina merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas anti bakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan ampisilina, efektif terhadap sebagian bakteri gram-positif dan beberapa gram-negatif yang patogen.
Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilina adalah Staphylococci, Streptococci, Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli dan P. mirabilis.
Amoksisilina kurang efektif terhadap spesias Shigella dan bakteri penghasil beta-laktamase.

Posologi:
Dosis amoksisilina disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi.
Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg: 20 - 40 mm/kg berat badan sehari, terbagi dalam 3 dosis.
Dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 20 kg: 250 - 500 mg sehari, sebelum makan.
Gonore yang tidak terkompilasi: amoksisilina 3 gram dengan probenesid 1 gram sebagai dosis tunggal.

Efek Samping:
Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urtikaria, ruam kulit, pruritus, angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis.

Interkasi Obat:
Probenesid memperlambat ekskresi amoksisilina.

Cara Penyimpanan:
Simpan dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk dan kering.

Peringatan dan Perhatian:
Pasien yang alergi terhadap sefalosporin mengakibatkan terjadinya "cross allergenicity" (alergi silang).
Penggunaan dosis tinggi atau jangka lama dapat menimbulkan superinfeksi (biasanya disebabkan: Enterobacter, Pseudomonas, S. aureus, Candida), terutama pada saluran gastrointestinal.
Hati-hati pemberia pada wanita hamil dan menyusui dapat menyebabkan sensitivitas pada bayi.

Arsip

Juli 2009  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Entri [Atom]